DOA

DOA
TENGADA

Jumat, 06 Agustus 2010

Sejarah Bulan-bulan Dalam Setahun


SEJARAH NAMA BULAN DALAM 1 TAHUN< JANUARI Kata ini diambil dari nama dewa bangsa Roma yaitu dea dengan dua wajah bernama Janus. Kedua wajah yang bertolak belakang, satu menatap ke depan dan lainnya menoleh ke belakang sebagai pelambang tatapan masa lalu dan pandangan ke masa datang. Janus yang akhirnya menjadi Januari sampai saat ini dijadikan bulan mawas diri sebagai pemisah tahun lalu dan tahun baru. FEBRUARI Berasal dari kata latin Februa, suatu istilah untuk pesta penyucian yang diselelnggarakan oleh bangsa Romawi kuno pada tiap tanggal 15 Februari. Bulan ini adalah bulan yang paling sedikit jumlah harinya; 28 hari pada tahun biasa dan 29 hari pada tahun kabisat. Tahun lbisat datang 4 tahun sekali untuk mengimbangi kekurangan dan kelebihan akibat hitungan hari dalam setahun yang tidak bulat, yaitu 365 hari, 5 jam, 48 menit dan 46 detik !!! MARET Semula bulan Maret merupakan bulan pertama dalam kalendar yang dipakai sekarang ini (Kalendar Julian). Tidak diketahui secara jelas siapa dan bagaimana sejarahnya hingga bulan tersebut berpindah ke urutran ketiga. Maret itu sendiri berasal dari kata Mars nama Dewa Perang bangsa Romawi kuno yang sangat terkenal karena kegarangan dan keberaniannya yang tiada tara. *penulis mikir .... mungkin karena perang2 gitu ya, jadi dipindah ke bulan ke-3, coz masa baru tahun baru bulan pertama udah perang2 duluan ? Semua manusia di bumi ini kayaknya lebih suka damai deh timbang perang. :) Hidup kedamaian !!!* MEI Kata Mei diperkirakan diambil dari istilah Maia Majesta, Dewa Musim Semi. Musim Semi disambut meriah dengan festival-festival oleh banyak rakyat Eropa. Gadis tercantik dan pria tertampan dipilih untuk dinobatkan menjadi raja dan ratu yang akan memimpin tari-tarian dalam festival-festival itu. Di Inggris, tradisi ini masih dilakukan tiap bulan Mei, ratu disebut Maid Marian dan sang raja disebut Robin Hood. JUNI Kata Juni berasal dari Juno, nama Dewi Feminin yang melambangkan harkat kewanitaan yang membawa kebahagiaan keluarga. Bagi sementara kalangan, terutamamasyarakat Eropa, bulan Juni dianggap bulan yang paling baik untuk melangsungkan perkawinan. Mereka percaya bahwa kawin pada bulan Juni akan membawa kebahagiaan bagi pasangan pengantin dan keturunannya. JULI Bulan ketujuh ini pada mulanya bernama Quintilis dan aslinya terletak pada urutan kelima. Tetapi ketika Roma dikuasai oleh Mark Anthony nama bulan ini diubah menjadi Juli, diambil dari nama Julius Caesar sebagai penghormatan kepada Kaisar Romawi yang terkenal itu. Tidak disebutkan apakah Mark Anthony juga memindahkan urutan bulan seperti tersebut diatas itu. Agustus Seperti halnya bulan ketujuh, bulan ke-8 pun berasal dari nama Kaisar Romawi; Agustus. Bahkan dia sendiri pula menempatkan namanya itu dalam kalendar tersebut. Untuk kekuasaannya dia mengubah jumlah hari, mengurangi jumlah hari pada bulan Februari lalu menambahkannya pada bulan ke-8 itu. Itu sebabnya makka bulan Februari menjadi bulan palign sedikit jumlah harinya. September September berasal dari kata Septa, bahasa latin berarti 7. Pada mulanya bulan September memang berada pada urutan ke-7 kelndar Julian. Tetapi ketika pada abad ke-8 sebelum masehi, pembagian tahun diubah dari 10 bulan menjadi 12 bulan, tanpa megubah namanya terlebih dahulu bulan September ditempatkan di urutan ke-9 dan berlaku sampai saat ini. Oktober Berasal dari kata Okto, bahasa latin yang berarti 8. Semula di urutan ke-8, bergeser ke urutan ke-10 mengikuti pergeseran bulan-bulan sebelumnya. November Berasal dari kata Novem, yang berarti 9. Sebelum diadakan pembaharuan di jaman Julius Caesar, bulan November hanya mempunyai 29 hari, bukan 30 hari seperti yang dikenal dewasa ini. Orang Inggris kuno menyebut November sebagai Bulan Berdarah karena musim pembantaian ternak menjelang musim dingin. Desember Baik pada zaman Romawi Kuno maupun pada masa modern sekarnag ini, bulan Desember merupakan bulan terkahir pada penanggalan tahunan. Desember berasal dari akta Decem yang berarti ke-10. Oleh bangsa-bangsa yang hidup di negara belahan bumi sebelah utara, bulan ini dikenal sebagia bulan suci karena semua negeri ditutupi oleh salju dan es yang memutih sepanjang hari. *penulis mikir .. itu sih dulu, kayaknya dengan pemanasan global sekarang ga terlalu menutupi .. kan esnya meleleh. ;)*

Sejarah Singkat Kalender Masehi




Perhitungan
kalender Masehi berdasarkan pada rotasi bumi (perputaran bumi pada porosnya)
dan revolusi bumi (peredaran bumi mengelilingi matahari). Menurut sistem
Yustisian 1 tahun = 365,25 hari dan hitungan kesatu (tahun pertama masehi)
dimulai pada kelahiran Yesus menurut keyakinan kaum Nasrani. Dasar perhitungan
menurut sistem Yustisian tersebut adalah : pertama, rotasi bumi disebut satu
hari = 24 jam dan kedua revolusi bumi disebut satu tahun = 365,25 hari.



Berdasarkan perhitungan tersebut, Kaisar Romawi pada tahun 47 SM menetapkan
kalender dengan ketentuan :



1. Satu tahun berumur 365 hari dengan kelebihan 6 jam setiap tahun

2. Setiap tahun yang keempat atau angkanya habis dibagi 4 maka umurnya menjadi
366 hari disebut tahun kabisat (tahun panjang), sedangkan tahun biasa (non
kabisat atau tahun pendek) berumur 365 hari. Cara menetapkannya ialah apabila
tahun tersebut habis dibagi 4 berarti tahun kabisat. Misalnya tahun 1995 : 4 =
498,7 bukan tahun kabisat sedangkan tahun 1996 : 4 = 499 adalah tahun kabisat.



Perkembangan selanjutnya pada abad ke-16 terjadi pergeseran dari biasanya yaitu
musim semi yang biasanya jatuh pada tanggal 21 Maret telah maju jauh, maka
dilakukan suatu koreksi. Apabila sebelum perhitungan satu tahun adalah 365,25
hari maka sejak saat itu satu tahun menjadi 365,2425 hari. Itu berdasar pada
perhitungan bahwa revolusi bumi bukan 365 hari lebih 6 jam tetapi tepatnya 365
hari 5 jam 56 menit atau 365 hari lebih 6 jam kurang 4 menit.



Oleh sebab itu pada tanggal 21 Maret 1582 terjadi pergeseran sehingga awal
musim semi jatuhnya lebih maju di Eropa. Untuk koreksi akibat adanya pembulatan
4 menit selama 15 abad tersebut maka Paus Gregorius XIII menetapkan sebagai
berikut :



1. Setiap tahun tang habis dibagi 100 meskipun habis dibagi 4 yang menurut
ketentuan sebelumnya adalah tahun kabisat tidak lagi menjadi tahun kabisat. Hal
itu karena pembulatan satu hari untuk tahun kabisat setiap 4 tahun tersebut
mendahului beberapa menit dari sebenarnya, maka diadakan pembulatan lagi pada
setiap 100 tahun.



2. Setiap 400 tahun sekali diadakan pembulatan satu hari, jadi meski habis
dibagi 100 maka tetap menjadi tahun kabisat. Dasar perhitungannya adalah dengan
kelebihan 4 menit setahun maka 400 tahun menjadi 1600 menit = 26 jam 40 menit.



3. Untuk menghilangkan kelebihan dari pembulatan yang telah terjadi sebelumnya
maka dilakukan pemotongan hari, yaitu sesudah tanggal 4 Oktober 1582, hari
berikutnya langsung menjadi tanggal 15 Oktober 1582. jadi tanggal 5 – 14
Oktober 1582 (selama 10 hari) tidak pernah ada dalam penanggalan Masehi.



Dengan dasar perhitungan koreksi tersebut maka sejak tahun 1600 sampai 2000
terjadi koreksi 3 kali yaitu tahun 1700, 1800 dan 1900. Hal ini adalah karena
sesuai ketentuan sebelum tahun 1582 setiap tahun habis dibagi 4 adalah tahun
kabisat. Namun sejak tahun 1582 berlaku ketentuan baru bahwa setiap tahun yang
habis dibagi 100 tidak menjadi tahun kabisat kecuali untuk tahun yang habis
dibagi 400. Dengan demikian tahun 1600 dan 2000 tetap tahun kabisat karena
habis dibagi 400. tahun yang habis dibagi 4 yang tidak menjadi tahun kabisat
untuk masa setelah tahun 2000 adalah tahun 2010, 2200, 2300 sedangkan tahun
2400 tetap tahun kabisat karena habis dibagi 400.



Kesimpulan yang bisa didapat pada perjalanan tahun Masehi dari tahun 1 – 2000
adalah :



- tahun 1 – 1582 semua tahun yang habis dibagi 4 adalah tahun kabisat

- tanggal 5 – 15 Oktober 1582 tidak pernah ada dalam kalender penanggalan

- tahun 1700, 1800, 1900 bukan merupakan tahun kabisat (3 tahun terjadi koreksi
3 hari)



Siklus tahun Masehi adalah 4 tahunan untuk siklus kecil (4 X 365) + 1 = 1461
hari sedangkan siklus besarnya setiap 400 tahun (100 X 1461) – 3 = 146097.
Bulan Februari pada tahun biasa (bukan kabisat) berumur 28 hari sedang pada
bulan tahun kabisat berumur 29 hari. Bulan yang berumur 31 hari adalah bulan
Januari, Maret, Mei, Juli, Agustus, Oktober dan Desember. Bulan yang berumur 30
hari ialah bulan April, Juni, September dan Nopember.




Ditulis oleh Muhammad Mufti pukul 8:10 PM






________________________________________________________________________________\
____
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ

Karakteristik

Penentuan dimulainya sebuah hari/tanggal pada Kalender Hijriyah berbeda dengan pada Kalender Masehi. Pada sistem Kalender Masehi, sebuah hari/tanggal dimulai pada pukul 00.00 waktu setempat. Namun pada sistem Kalender Hijriah, sebuah hari/tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut.
Kalender Hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan kalender lunar (qomariyah), memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari).Hal inilah yang menjelaskan 1 tahun Kalender Hijriah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan 1 tahun Kalender Masehi.
Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam Kalender Hijriah bergantung pada posisi bulan, bumi dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi, dan pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion). Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dengan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). dari sini terlihat bahwa usia bulan tidak tetap melainkan berubah-ubah (29 - 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (Bulan, Bumi dan Matahari)
Penentuan awal bulan (new moon) ditandai dengan munculnya penampakan (visibilitas) Bulan Sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, Bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya Matahari, sehingga posisi hilal berada di ufuk barat. Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, maka jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari, dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal.

[sunting] Nama-nama bulan

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan:
  1. Muharram
  2. Safar
  3. Rabiul awal
  4. Rabiul akhir
  5. Jumadil awal
  6. Jumadil akhir
  7. Rajab
  8. Sya'ban
  9. Ramadhan
  10. Syawal
  11. Dzulkaidah
  12. Dzulhijjah

[sunting] Nama-nama hari

Kalender Hijriyah terdiri dari 7 hari. Sebuah hari diawali dengan terbenamnya matahari, berbeda dengan Kalender Masehi yang mengawali hari pada saat tengah malam. Berikut adalah nama-nama hari:
  1. al-Ahad (Minggu)
  2. al-Itsnayn (Senin)
  3. ats-Tsalaatsa' (Selasa)
  4. al-Arba'aa / ar-Raabi' (Rabu)
  5. al-Khamsatun (Kamis)
  6. al-Jumu'ah (Jumat)
  7. as-Sabat (Sabtu)

[sunting] Sejarah

Penentuan kapan dimulainya tahun 1 Hijriah dilakukan 6 tahun setelah wafatnya Nabi Muhammad. Namun demikian, sistem yang mendasari Kalender Hijriah telah ada sejak zaman pra-Islam, dan sistem ini direvisi pada tahun ke-9 periode Madinah.

[sunting] Sistem kalender pra-Islam di Arab

Sebelum datangnya Islam, di tanah Arab dikenal sistem kalender berbasis campuran antara Bulan (komariyah) maupun Matahari (syamsiyah). Peredaran bulan digunakan, dan untuk mensinkronkan dengan musim dilakukan penambahan jumlah hari (interkalasi).
Pada waktu itu, belum dikenal penomoran tahun. Sebuah tahun dikenal dengan nama peristiwa yang cukup penting di tahun tersebut. Misalnya, tahun dimana Muhammad lahir, dikenal dengan sebutan "Tahun Gajah", karena pada waktu itu, terjadi penyerbuan Ka'bah di Mekkah oleh pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah, Gubernur Yaman (salah satu provinsi Kerajaan Aksum, kini termasuk wilayah Ethiopia).

[sunting] Revisi penanggalan

Pada era kenabian Muhammad, sistem penanggalan pra-Islam digunakan. Pada tahun ke-9 setelah Hijrah, turun ayat 36-37 Surat At-Taubah, yang melarang menambahkan hari (interkalasi) pada sistem penanggalan.

[sunting] Penentuan Tahun 1 Kalender Islam

Setelah wafatnya Nabi Muhammad, diusulkan kapan dimulainya Tahun 1 Kalender Islam. Ada yang mengusulkan adalah tahun kelahiran Muhammad sebagai awal patokan penanggalan Islam. Ada yang mengusulkan pula awal patokan penanggalan Islam adalah tahun wafatnya Nabi Muhammad.
Akhirnya, pada tahun 638 M (17 H), khalifah Umar bin Khatab menetapkan awal patokan penanggalan Islam adalah tahun dimana hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekkah ke Madinah. Penentuan awal patokan ini dilakukan setelah menghilangkan seluruh bulan-bulan tambahan (interkalasi) dalam periode 9 tahun. Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad terjadi bulan September 622. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H, PERF 558.

[sunting] Tanggal-tanggal penting

Tanggal-tanggal penting dalam Kalender Hijriyah adalah:

[sunting] Hisab dan Rukyat

Rukyat adalah aktivitas mengamati visibilitas hilal, yakni mengamati penampakan bulan sabit yang pertama kali tampak setelah bulan baru (ijtima). Rukyat dapat dilakukan dengan mata telanjang, atau dengan alat bantu optik seperti teleskop. Apabila hilal terlihat, maka pada petang tersebut telah memasuki tanggal 1.
Sedangkan hisab adalah melakukan perhitungan untuk menentukan posisi bulan secara matematis dan astronomis. Hisab merupakan alat bantu untuk mengetahui kapan dan dimana hilal (bulan sabit pertama setelah bulan baru) dapat terlihat. Hisab seringkali dilakukan untuk membantu sebelum melakukan rukyat.
Penentuan awal bulan menjadi sangat signifikan untuk bulan-bulan yang berkaitan dengan ibadah, seperti bulan Ramadan (yakni umat Islam menjalankan puasa ramadan sebulan penuh), Syawal (yakni umat Islam merayakan Hari Raya Idul Fitri), serta Dzulhijjah (dimana terdapat tanggal yang berkaitan dengan ibadah Haji dan Hari Raya Idul Adha). Penentuan kapan hilal dapat terlihat, menjadi motivasi ketertarikan umat Islam dalam astronomi. Ini menjadi salah satu pendorong mengapa Islam menjadi salah satu pengembang awal ilmu astronomi sebagai sains, lepas dari astrologi pada Abad Pertengahan.
Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung (rukyatul hilal). Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Metode hisab juga memiliki berbagai kriteria penentuan, sehingga seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadan atau Hari Raya Idul Fitri.

[sunting] Rupa-rupa

  • Menurut perhitungan, dalam satu siklus 30 tahun Kalender Hijriyah, terdapat 11 tahun kabisat dengan jumlah hari sebanyak 355 hari, dan 19 tahun dengan jumlah hari sebanyak 354 hari. Dalam jangka panjang, satu siklus ini cukup akurat hingga satu hari dalam sekitar 2500 tahun. Sedangkan dalam jangka pendek, siklus ini memiliki deviasi 1-2 hari.
  • Microsoft menggunakan Algoritma Kuwait untuk mengkonversi Kalender Gregorian ke Kalender Hijriyah. Algoritma ini diklaim berbasis analisis statistik data historis dari Kuwait, namun dalam kenyataannya adalah salah satu variasi dari Kalender Hijriyah tabular.
  • Untuk konversi secara kasar dari Kalender Hijriyah ke Kalender Masehi (Gregorian), kalikan tahun Hijriyah dengan 0,97, kemudian tambahkan dengan angka 622.
  • Setiap 33 atau 34 tahun Kalender Hijriyah, satu tahun penuh Kalender Hijriyah akan terjadi dalam satu tahun Kalender Masehi. Tahun 1429 H lalu terjadi sepenuhnya pada tahun 2008 M.

[sunting] Kalender Hijriah dan Penanggalan Jawa

Sistem Kalender Jawa berbeda dengan Kalender Hijriyah, meski keduanya memiliki kemiripan. Pada abad ke-1, di Jawa diperkenalkan sistem penanggalan Kalender Saka (berbasis matahari) yang berasal dari India. Sistem penanggalan ini digunakan hingga pada tahun 1625 Masehi (bertepatan dengan tahun 1547 Saka), Sultan Agung mengubah sistem Kalender Jawa dengan mengadopsi Sistem Kalender Hijriah, seperti nama-nama hari, bulan, serta berbasis lunar (komariyah). Namun demikian, demi kesinambungan, angka tahun saka diteruskan, dari 1547 Saka Kalender Jawa tetap meneruskan bilangan tahun dari 1547 Saka ke 1547 Jawa.
Berbeda dengan Kalender Hijriah yang murni menggunakan visibilitas Bulan (moon visibility) pada penentuan awal bulan (first month), Penanggalan Jawa telah menetapkan jumlah hari dalam setiap bulannya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar